Pada suatu sore Eli pulang dari tempat bimbingan belajarnya, dia mengayuh sepedanya cepat-cepat dari tempat bimbingan belajar menuju rumahnya. Dengan muka yang menahan amarah, dia terus mengayuh sepeda. Hingga akhirnya, sampailaih ia di depan rumahnya, “Lho, kok sudah pulang nduk?” Tanya ibunya yang sedang menyapu halaman. Tidak terdengar jawaban dari anak perempuannya, Eli langsung masuk kamar dengan air mata yang hampir mentes ke pipinya. “Dherrrrrrrrrr…..!!!” tiba-tiba saja pintu kamar Eli, ia banting dengan kencang, Eli melempar tas nya ke lantai, langsung melompat ke tempat tidur, membekab bantal dan menangis. Eli terlihat sangat sedih sekali, terdengar sangat memilukan, dari balik pintu ibundanya mencoba mendengarkan apa yang sedang terjadi. Dengan penuh kasih ibunda Eli menghampirinya, sambil duduk di sebelah Eli yang sedang tengkurap membenamkan kepalanya di bantal, ibunda Eli membelai kepalanya dengan penuh kasih.
“Ada apa lagi to nduk?” Tanya ibunda Eli padanya dengan perasaan empati yang mendalam, Eli hanya menggelngkan kepala sambil sesekali menarik nafas sesaknya,
“Ibu tau, pasti Rachel kan?” Ibunda Eli mencoba menebak, dan ternyata benar, Eli mengangguk perlahan sambil membekab bantal yang sudah basah oleh air mata.
“Sudahlah… tidak usah menangis seperti itu…, nanti hilang lho cantiknya?” ibunda Eli mencoba menenangkan. Terlihat respon positif dari Eli, dia duduk di sebelah ibundanya, sambil tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya. Nafasnya masih belum setabil, dia memeluk erat ibundanya, begitu pula ibunda Eli, “Sayang… cup cup ya…nduk”, mereka berpandangan dan tertawa mesra kemudian kembali berpelukan.
“Ada apa to… kok datang-datang tidak memberi salam dulu langsung masuk kamar” tanya ibunda Eli padanya,
“Eli di ejek buk…, Rachel dan anak-anak lainnya seneng banget mengejek saya”, kata Eli.
“ Ya… ibuk paham…, kamu tidak usah berkecil hati, dia itu sebenarnya sayang sama Eli, akan tetapi cara menyampaikannya saja yang berbeda” ibunda Eli menenangkan kembali.
“Lha kok bisa to buk, sayang kok malah setiap kali mengejek gitu…” Eli sedikit tidak mengerti,
Ibunda Eli berdiri, “Ya kalo bukan sayang apa namanya, dia selalu saja memperhatikanmu dengan ejekan-ejekan yang Rachel berikan to….?, sambil tersenyum ibunda Eli mengambil Alkitab yang berada di meja belajar anaknya.
Ibunda Eli, menyalakan lampu kamar agar lebih terang, dan kembali duduk di samping Eli. “Suadahlah, nduk… tidak usah jadikan hatimu kecil oleh karena perkataan Rachel dan teman-temanmu… buatlah dirimu kaya memaafkan, buatlah hatimu lapang…” dengan menyodorkan Alkitab kepada Eli, ibundanya berkata: “Sekarang kita buka Injil Matius….”
Dalam benak Eli, perasaannya masih sedih, akan tetapi ibundanya menyuruhnya untuk membaca kitab suci, apa maksud ibu. Terlihat ibunda Eli tersenyum lembut menatap anaknya. “Bukalah Matius 18, ayat 21 – 35” katanya kemudian.
Eli membuka dengan penuh Tanya dalam hatinya, “Sekarang bacalah perlahan, resapilah apa yang Tuhan Yesus maksudkan untuk kita umat-Nya” ajak ibundanya.
Eli membacanya: “Matius 18, ayat 21 – 35…
18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Ibunda Eli tersenyum gembira, melihat anaknya. “Sekarang sudah paham to….?”
“Ibu akan jelaskan…” kata ibunda Eli padanya.
Bahwa mengampuni itu, tidak hanya sekali, dua kali, tiga kali…. sampai tujuh kali, kan tetapi Tuhan Yesus mengajarkan kita agar kita senantiasa mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita. Agar apa, agar kita tidak menjadi anak-anak dunia yang mempunyai dendam dalam hati kita. Dendam itu seumpama menanam tumbuhan berduri, jika tidak segera dicabut, dia akan tetap tumbuh subur dalam hatimu. Setelah tumbuh besar nanti, dia akan menusuk-nusuk hatimu, dan menimbulkan amarah kepada orang yang telah menanamkan dendam padamu. Dengan demikian, karakter kita akan terbentuk dengan sifat dendam dalam hati kita, seiring berjalannya waktu, kita akan menjadi semakin mirip dengan dunia ini, kehilangan kemuliaan Tuhan dalam hati kita, oleh karena dendamlah yang mengatur kehidupan kita.
Akibat yang dihasilkan tidak hanya kepada orang yang kita musuhi, akan tetapi jika karakter tersebut sudah melekat dalam hati kita, orang terdekat yang kita kasihipun akan terkena dampaknya.
Yang lebih penting lagi, kita harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah sudi mengampuni dosa-dosa kita, Dia telah rela berkorban menanggung segala pelanggaran dan kesalahan kita.
Janganlah kita menjadi seorang hamba seperti perumpamaan dalam kitab Injil Matius tadi, Sesudah Raja melunaskan segala hutangnya, akan tetapi sikapnya tidak mencerminkan syukur. Hamba itu tidak mengampuni kawannya yang hanya berhutang seratur dinar padanya, jauh lebih sedikit dibandingkan hutangnya pada Raja
(talenta >> dinar)
[Talenta = Ukuran timbangan sebesar 3000 syikal = kurang lebih 34 kilogram. Dalam Perjanjian Baru ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6000 dinar (Mat. 18:24; 25:15-28).
Dinar = Mata uang Romawi. Satu dinar ialah upah pekerja harian dalam satu hari (Mat. 20:2). Nilainya kurang lebih Rp 750,- sekarang. red]
Tuhan Yesus, sudah melunaskan hutang dosa kita, bahkan yang sangat banyak sekalipun, oleh karena itu, ampunkanlah kesalahan orang lain dalam nama Tuhan yang telah mengampuni segala pelanggaran kita.
Kita semua diutus untuk saling mengasihi, bahkan kepada musuh kita sekalipun :
Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
(Lukas 6 : 36)
Tuhan menginginkan kita mempunyai pribadi Anak-Anak Allah, bukan anak-anak duniawi:
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
(Roma 12:2)
“Seperti itu…, nduk… sudah paham???”
Eli mengangguk-angguk sangat senang.
“Iya buk… Eli tidak ingin serupa dengan dunia, Eli adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi” Eli sangat senang sambil tersenyum dia memelik ibunya kembali dengan dekapan penuh cinta.
“Yuk, kita berdoa agar Tuhan senantiasa menyertai keluarga kita…” ajak ibundanya kepada Eli.
Salam hangat,
By : Melkisedekh Y. Alfa Suharyono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar