Minggu, 16 Oktober 2011

SAHABAT MELEBIHI SEORANG SAUDARA

Ketika aku menulis renungan ini, suasana ruang kamar aku mengingatkanku kembali ke masa itu. Hujan yang mengguyur tanah kering setelah terpapat terik matahari, kemudian mengeluarkan aroma khas tanah basah, aromanya semakin kuat dan merasuk kedalam kamarku. Diiringi alunan lagu pujian “Sampai-GMB”, semakin membuat perasaanku damai, dan membawa lamunanku pada masa-masa kuliah dulu. Tepat diatas meja disamping jendela, aku mulai mengingat kenangan-kenangan indah bersama sahabat-sahabatku.


Entah mengapa dadaku terasa hangat, dan rinduku semakin kuat, setiap kuhirup aroma tanah basah malam itu. Mengingatkanku pada saat sore hari, sewaktu ada kuliah sore. Saat itu hujan, dan kami tetap berangkat kuliah, walaupun dengan basah kuyup, kedinginan, kami tetap masuk kuliah. Di dalam ruang kelas, hanya beberapa orang yang mendengarkan penjelasan dosen dengan taat, walaupun suara dosen tidak terdengar jelas, karena tersamar oleh derasnya hujan sore itu. Mungkin hanya aku pribadi yang merasakan nyamannya suasana kelas sore itu, berteman remang lampu kelas, dan dinginnya air hujan yang membasahi pakaianku, semakin membuatku nyaman. Yang membuat nyaman bukanlah keadaan yang serba tidak mengenakkan itu, tetapi kebersamaan kami, aku dan sahabat.

Tiga setengah tahun menimba ilmu bidang teknik sipil, di univ. terkemuka di Yogyakarta, merupakan waktu yang sangat singkat. Dimana aku dan sahabatku juga merasakan kelulusan yang sama, menempuh study bersama-sama, suka duka bersama, canda tawa bersama, dan dekat dengan Tuhan bersama-sama. Ya, ada sahabat-sahabatku yang lain yang juga harus menyelesaikan masa studinya.

Saat kelulusan, merupakan saat yang tidak mengenakkan dalam hidupku. Merupakan waktu yang menentukan masa depan kami masing-masing, dan jalan kami masing-masing. Tersentak sadar, bahwa kami mungkin akan jarang bertemu, atau bisa jadi sulit untuk bertemu, berkumpul lagi. Ya, hari itu tiba, dan kami berpisah jarak,dan kesibukan. Ada yang di Solo, ada yang di Jakarta, ada yang masi di Yogyakarta meneruskan kuliah S2, ada yang di Bali, Semarang, dan kembali ke kampung halaman masing-masing.

Sahabat, adalah kawan dikala sakit ataupun dikala senang. Ketika bergembira mereka ikut tertawa, saat kita bersedih mereka ikut menangis. Berjuang bersama-sama demi tercapainya tujuan bersama. Sahabat dapat melebihi seorang saudara. Ya, hal itu memang sangat aku rasakan. Saat persiapan ujian, kita bersama-sama belajar untuk mendapatkan nilai yang baik, menyelesaikan permasalahan bersama, dan menjalankan kegiatan sehari-hari bersama-sama. Kenangan terindah saat bersama dengan sahabatku, kenangan itu nagiku adalah sesuatu hal yang sangat berharga.

Tuhan Allah telah menanamku di ladang yang sangat subur, dengan bertemu dengan sahabat-sahabat OOB, atau Orang-Orang Bodoh. Disebut demikian karena kami adalah orang yang bodoh, yang haus akan pengetahuan, dan selalu belajar untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, dalam segala hal. Di dalam OOB juga semakin diberkati, oleh karena persekutuan yang kami lakukan, Persekutuan Doa (PD). Semakin tumbuhlah imanku, kedewasaan spiritual dan keteguhan akan iman. Ibarat pohon, aku ditanam pada tanah yang dipupuk subur, sehingga mudah bagiku untuk bertumbuh, berkembang dan berbuah. Sebagaimana yang dirasakan oleh sahabat-sahabatku yang lain. Kalian semua menorehkan kenangan indah dalam ruang jiwaku.

_____________________________________________________________________________

Dari cerita pribadi diatas, aku ingin membagikan sedikit renungan pada saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Tuhan telah bersabda melalui Rasul Paulus, dalam 1 Korintus 15: 33

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1 Korintus 15: 33)

Seperti pepatah, pandai-pandailah mencari teman, bukan menganjurkan kita untuk memilih-milih teman. Tetapi agar kita lebih selektif dalam berteman. Faktor lingkungan adalah, faktor penentu karakter hidup kita, dan sumbangan terbesar datangnya dari orang-orang disekitar kita termasuk teman-teman kita. Baik sadar atau tidak sadar, kita akan terbentuk oleh karena pola hidup lingkungan kita.

Jika kebanyakan teman kita adalah pemabuk, atau perokok, tidak mungkin kita tidak pernah mencicipi barang-barang tersebut. Baik dalam paksaan ataupun sukarela, dan berfikir bahwa hal tersebut adalah benar (karena teman-teman kebanyakan melakukannya), maka kitapun akan terjerumus kedalam jebakan iblis, dalam pergaulan yang keliru. Jika itu terjadi, ambil langkah tegas, keluar dari habitat tersebut, dan mencari habitat baru bagi diri kita.

Sahabat melebihi saudara, apabila kita menemukan teman yang sangat baik yang tahu dan mengerti akan kita, dan kita juga tahu dan mengerti akan dia. Hubungan seperti ini lebih akrab daripada saudara kandung sekalipun. Dan akan menganggap mereka sebagai saudara jauh kita, dari ikatan batin yang kuat bersama dengan sahabat.

Marilah saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, mari kita mawas diri agar kita tidak terjebak dalam pergaulan yang keliru. Ujilah segala sesuatunya di dalam Tuhan. Tuhan adalah baik, maka segala yang bersumber dari padaNya adalah baik adanya.

____________________________________________________________________________

Tulisan ini secara khusus aku persembahkan untuk para sahabatku, dimanapun kalian berada. Tetap semangat untuk misi utama kita...

OOB Comunity



Dan para sahabatku yang tercinta :

Youth

United Students

United Sion





Dibuat oleh:

Melkisedekh Y. Alfa Suharyono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar