Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, menyertai kita semua
Saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan, setiap kita pasti pernah melihat burung Kutilang, bukan?
Iya benar, burung kutilang adalah sejenis burung kicauan, yang biasanya dipelihara orang, untuk diperdengarkan suaranya. Pada renungan saat ini, saya akan menceritakan kisah mengenai burung Kutilang yang murung.
Alkisah di negeri hewan, hiduplah seekor burung Kutilang kecil yang selalu murung, dia merasa dirinya tidak dapat melakukan sesuatu hal yang hebat seperti binatang-binatang yang lainnya. Dia sering merasa iri, kepada binatang-binatang hutan yang lain karena binatang lain lebih hebat dari padanya. Pada suatu hari, tepat ditengah hutan kakek penjaga hutan mengumpulkan semua hewan-hewan untuk mengadakan pertemuan. Kakek seudah mendengar cerita dari beberapa hewan, mengenai burung Kutilang yang selalu saja murung, sehingga kakek berinisiatif untuk mengumpulkan mereka semua.
Kakek bertanya pada burung kutilang, mengapa dia selalu murung. Dengan berat hati burung Kutilang bercerita dihadapan kakek, dan binatang yang lain.
Dengan nada yang sendu kutilang bercerita, bahwa dia ingin seperti teman-teman binatang yang lain, kenapa dia tidak memiliki tubuh yang gagah, cakar yang kuat dan tajam, atau gigi-gigi yang tajam untuk menggigit, atau bisa berenang di air sungai yang jernih, atau mempunyai tanduk yang perkasa. Kutilang sangat kecewa pada dirinya, bahwa dirinya merasa tidak berharga, dan tidak dapat melakukan sesuatu yang hebat seperti binatang-binatang yang lain.
Kakek mendengarkan keluhan Kutilang dengan sangat bijaksana. Mendengar keluhan tersebut, kakek tidak segera menjawabnya. Dia mempersilahkan singa, badak, ikan, dan burung rajawali untuk menanggapi keluhan Kutilang.
Singa mencoba mengomentari keluhan kutilang, “Memang aku memunyai cakar yang kuat, kuku-kuku kakiku sangat tajam, dan gigiku sangat tajam yang mampu merobek daging lawanku dengan sangat mudah. Namun, aku tidak mempunyai sayap sepertimu, Kutilang yang mampu terbang lincah kian kemari”, kata singa
Kemudian, badak ikut angkat bicara:” Kutilang, kamu melihat bahwa tubuhku kekar, dan tangguh, kaki kaki ku sangat kuat, dan aku memiliki tanduk yang sangat kokoh, akan tetapi lihatlah rupaku ini, terlihat sangat garang dan bengis. Tidak seimut dirimu, dimana setiap binatang dan manusia mau mendekatimu”, kata badak melanjutkan.
Dari dalam kolam, ikan menjawab keluhan kutilang, katanya: “Kutilang, janganlah kamu sedih akan keadaanmu, cobalah lihat aku saat ini, memang benar aku dapat berenang cepat di air yang jernih, teatpi aku tidaklah sehebat dirimu yang mampu hidup di dua alam, baik di darat maupun diudara. Aku tidaklah seberuntung dirimu kutilang”, jawab ikan mencoba menghibur.
Dan Rajawali pun ikut ambil bagiannya, katanya: “bukannya aku sombong dan menyombongkan diri, aku mempunyai kuku yang tajam dan kuat, paruhku sangat kuat untuk megoyak daging, sayapku sangat kokoh, dapat terbang melayang kesana kemari. Dapat dibilang aku adalah binatang yang mendekati sempurna. Tetapi jangan salah kutilang, aku tetap mempunyai kekurangan, dimana aku tidak bisa seperti dirimu. Aku tidak dapar bernyanyi dengan kicauanmu yang sangat merdu didengar. Beruntunglah dirimu yang dapat melakukannya” Jawab Rajawali.
Akhirnya kakek mencoba untuk memberikan kesimpulan atas keluhan burung Kutilang.
Kata kakek, kepada seluruh binatang hutan: “Kalian semua telah diberikan keistimewaan sendiri-sendiri, Tuhan telah memberikan keistimewaan yang berlain-lainnan. Jika yang satu mempunyai kekurangan maka yang lain mempu kelebihan, akan tetapi kalian juga mempunyai keunikan diri masing-masing yang tidak dimiliki oleh siapapun. Tuhan Pencipta Alam, sudah mengatur sedemikan rupa, sehingga kita dapat saling bersyukur atas karunia yang Dia berikan atas kita semua”.
Mendengar jawaban dari teman binatang dan dari kesimpulan kakek, Kutilang kembali pulih dan dia sangat beryukur atas karunia yang Tuhan berikan padaNya. Setiap pagi hari, saat matahari terbit Kutilang menyambutnya dengan kucauannya yang merdu, sehingga suasana hutan menjadi semakin indah oleh karena kicuannya.
Saudaraku yang terkasih, terkadang kita merasa diri seperti kutilang. Terbelenggu dalam keterbatasan yang kita miliki, tanpa pernah melihat kelebihan yang dianugerahkan Tuhan atas hidup kita. Ingatlah saudara, Tuhan sangat mengasihi setiap kita, dan Dia telah memberikan bekal untuk kehidupan kita, kekhasan atas hidup kita yang menjadikan setiap ciptaannya berbeda dalam keanekaragaman. Hal tersebut bertujuan agar kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan, dan agar kita saling membutuhkan satu sama lainnya.
Penuhilah hidupmu dengan rasa syukur, maka hidup kita akan menjadi lebih istimewa. Itu semua karena anugerah Tuhan pada kita.
Semoga artikel ini memberkati kita semua.
Salam damai.
Amin
Dibuat oleh:
Melkisedekh Yonatha Alfa Suharyono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar