Judul diatas merupakan ajakan kepada setiap kita, untuk menjadi Kitab yang dapat dibaca oleh setiap manusia. Kita merupakan suatu buku suci dan kudus, yang merupakan kumpulan dari beberapa lembar tulisan-tulisan yang suci dan kudus. Dalam hal ini penulis mengajak saudara semua untuk menjadi pribadi yang diliputi oleh kekudusan. Di mana setiap tindakan yang keluar daripadanya merupakan visualisasi dari hati yang suci dan kudus, sehingga dapat menjadi teladan bagi semua orang yang ada disekitarnya.
Maukah kita menjadi kitab yang terbuka?, merupakan gaya hidup Illahi yang dipraktikkan ditengah kehidupan duniawi, yang notabenemerupakan tempat dimana banyak sekali manusia duniawi berada. Merupakan tantangan tersendiri bagi kita, untuk berlaku menjadi teladan bagi sekitar.
Apa itu manusia duniawi?
Di dunia ini banyak sekali manusia yang belum menerima kabar sukacita dari Tuhan kita, mereka masih hidup di dalam bayang-bayang maut, perasaan gelisah yang menghantui kehidupannya, oleh karena sulitnya hidup di dunia yang mewajibkan setiap manusia menjadi serupa dengan dunia. Dunia ini tidaklah selamanya ada, hanyalah fana adanya. Kesulitan yang akan kita dapatkan apabila kita senantiasa menuruti keinginan dunia. Iblis adalah sumber dari kekacuan itu, hasutan yang dilakukannya membuai manusia agar menuruti keinginan duniawi yang sangat menyesatkan. Iblis membuat manusia silau akan keindahan dunia yang fana ini, dan melupakan kehendak Allah akan umat ciptaan yang dikasihiNya. Dampak daripada kita yang menuruti keinginan dunia adalah ketakutan, kekawtiran, dan rasa gelisah di dalam setiap kehidupan. Karena kekawatiran kita tidak dapat mengikuti keinginan nafsu dunia, yang tidak akan pernah merasakan puas di dalam hidup kita.
Manusia telah terbelenggu pada rupa dunia ini, yang merupakan hasutan iblis. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Menuruti nafsunya, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran, Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. Seperti yang tertulis di dalam II Timotius 3 : 1 -9
Serupa dengan dunia, malah membuat manusia bangga akan hidupnya. Ada satu pepatah yang cukup membuat kita terpukul yaitu: “Zaman sekarang ini kalo kita tidak ikut gila (nekad), maka kita tidak akan kebagian apa-apa”. Nampaknya roh keduniawian telah melekat di dalam hati manusia-manusia dunia ini, yang tampak dalam setiap perilaku manusia era modern. Budaya-budaya baru kesesatan yang telah dianggap lazim bagi manusia, seperti:
1. Bagi pelajar, mencontek dianggap wajar, membolos sekolah dianggap sangatlah wajar untuk dilakukan, tidak hormat kepada guru yang mendidik mereka.
2. Bagi pekerja, budaya korupsi merupakan “adat baru” di dalam dunia ini, membunuh karakter, melakukan tindak kecurangan, dan menghalalkan segala cara untuk naik jabatan,
3. Bagi masyarakat umum, dibukanya klub-klub malam yang notabene merupakan tempat yang asik untuk melepaskan kepenatan, budaya Poligami (mempunyai lebih dari satu isteri) yang hanya mengutamakan keinginan nafsu semata, penyembahan berhala modern seperti harta, kecantikan/ ketampanan, dan maraknya peredaran narkoba dan miras, lokalisasi di setiap sudut kota.
Perilaku yang demikian, tidaklah mencerminkan manusia yang mempunyai gambaran dan rupa Allah. Manusia-manusia dunia bahkan merasa risih, apabila diberikan suatu nasehat kepada dirinya agar melakukan pembaharuan diri di dalam Tuhan. Mengapa hal itu terjadi?, karena hati mereka telah digadaikan untuk kepuasan duniawi semata, hatinya tandus, gersang, dan tidak dapat dijadikan media untuk tumbuh kembang iman.
Apakah manusia duniawi masih dapat diselamatkan?
Jika kita percaya bahwa Allah Bapa adalah Tuhan yang Maha Pengampun, maka tidak ada hal didunia ini yang akan memutuskan cintaNya terhadap umat yang dikasihiNya. Tuhan tidak pernah tinggal diam, Dia senantiasa beracara untuk menyelamatkan umat yang dikasihiNya. Dan hal yang harus diingat, sebelum matahari terbenam (kematian), pintu gerbang pertobatan tetap Dia bukakan. Roma 8: 38-39 berbicara untuk kita,
Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Tuhan tetap berperkara untuk menyelamatkan umat yang dikasihiNya. Tetapi kita juga harus mengerti ketetapan yang telah Tuhan buat, yaitu agar umat CiptaanNya merupakan ciptaan yang suci, kudus tak bercela. I Petrus 1:16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Tuhan menghendaki agar manusia, melakukan suatu perubahan hidup (transformasi hidup), sesuai dengan kehendakNya, seperti yang tertulis di dalam Roma 12:2
Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Sungguh Tuhan sangatlah baik bagi kita, meskipun kita manusia yang berlumur dosa, selalu mencelupkan diri kita dalam kubangan dosa, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita. Dia selalu menegakkan kita saat kita lunglai, membangunkan kita saat kita terjatuh.
Setelah kita mengetahui kebaikan Allah kepada kita, lantas bagaimana tindakan kita?
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menindaklanjuti kasih sayang Tuhan atas diri kita, yaitu:
1. Pertobatan yang sejati
Tuhan menginginkan agar umat yang Dia kasihi menjadi kepunyaanNya yang kudus, tidak tercemar oleh keduniawian, oleh sebab itulah apabila saat ini kita masi serupa dengan dunia ini, maka kita mulailah merubah kebiasaan tersebut. Berbaliklah menuju kesempurnaan kasih Allah, mulailah mencoba mengkuduskan hati, jiwa, akal pikiran kita, dan segenap apa yang ada pada kita untuk kemuliaan Allah;
2. Tetap bertekun di dalam proses
Segala seuatu di dunia ini tidak ada yang instan, segalanya membutuhkan proses dan ketekunan dalam menjalankannya. Tuhan akan membentuk hati kita, yang dahulu kita adalah orang dunia, Tuhan mau ubahkan kita menjadi umat kesayanganNya, yang akan dipakai untuk alat kemuliaan bagiNya. Tuhan akan memproses kita, membentuk hati kita menjadi bejana yang akan Tuhan pakai bagi rencanaNya;
3. Ucaplah syukur senantiasa atas limpahan rahmat Tuhan yang selalu ada bagi kita
Sudah sepantasnyalah kita mengucapkan syukur kepada Tuhan, atas kebaikan yang telah Dia perbuat dalam hidup kita. Ucaplah syukur setiap saat, selama nafas masih boleh kita punyai. Syukur membuat kita semakin takjub akan rencana Tuhan, perbuatanNya yang ajaib dalam menuntun setiap langkah kita. Mengucap syukurlah dari dalam hati, yang merupakan proses perenungan mendalam akan setiap campur tangan Tuhan dalam hidup kita.
4. Menjadi kita yang terbuka untuk semua manusia
Kita adalah Rekan Sekerja Allah, setelah kita melakukan proses di dalam Tuhan, maka selanjutnya adalah mewartakan kasih Tuhan kepada setiap manusia yang belum mengetahuinya. Dengan cara apa? Yaitu dengan menggunakan diri kita sendiri sebagai contoh kebaikan. Tidak perlu kita menasehati manusia dunia dengan kata-kata yang panjang, berbelit-belit, dan terlalu susah untuk dipahami, atau dengan mengitimidasi mereka agar meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Kita cukup mengintrospeksi diri, merubah diri kita dari dalam (berproses bersama Tuhan), sehingga kita memiliki karakter Allah dalam diri kita. Dengan demikian dimanapun kita ditempatkan, dimanapun kita berada, karakter Allah menjadi bagian dalam hidup kita. Karakter Allah yang dimaksud dapat kita temukan dalam Galatia 5: 22-23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri
Orang yang berada disekitar kita akan merasakan kehadiran Allah, oleh sebab adanya kita di dalam perjumpaan tersebut. Kita sebagai umat kepunyaan Allah secara tidak langsung mengenalkan Allah dari apa yang ada pada kita. Kemuliaan Tuhan semakin bertambah agung oleh sebab banyak orang yang mengenal Tuhan dari apa yang kita perbuat.
Sederhana, namun butuh komitmen yang tinggi
Nampaknya cukup sederhana, hanya satu kalimat yang singkat “Menjadi Kitab yang terbuka bagi semua manusia”. Menjadi pribadi yang berbeda merupakan tindakan yang sangatlah sulit, apalagi keseharian kita berada ditengah lingkungan yang tidak mendukung. Perbedaan yang Tuhan inginkan adalah perbedaan yang berjalan menuju kearah kekudusan dan kesucian diri, yaitu kearah yang positif, bukan berbeda untuk hal yang negatif. Apakah hal tersebut tidak mungkin?, tentu saja mungkin terjadi, apabila kita mempunyai komitmen yang tinggi untuk dapat berbeda dengan dunia, lingkungan sekitar kita.
Markus 14: 38 berkata “roh memang penurut, tetapi daging lemah”, meskipun demikian kita tidak boleh menyerah pada dunia, tetapi yang harus kita lakukan adalah tetap bersandar pada Tuhan. Tuhanlah sumber kekuatan bagi kita, meskipun badai dunia menghempaskan gelombangnya untuk menerpa hati kita, kita tetap tegar berpegang pada tangan Kuat Kuasa Tuhan kita.
Roma 12: 11 mengatakan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”. Kita harus tetap tekun dan rajin dalam menghidupkan komitmen diri sebagai kita yang terbuka, sebagai manusia yang mau berbeda dengan dunia ini. Tuhan lah yang senantiasa memberi semangat pada setiap kita dengan Roh Nya yang sungguh memberikan semangat pada kita, agar roh yang ada di dalam kita tetap menyala-nyala dalam melayani Tuhan.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan,
Biarlah Tuhan sendirilah yang berkenan merubahkan kita, yang dahulunya adalah manusia dunia menjadi umat kekasih Tuhan, dan mengemban amanat Agung Tuhan sebagai rekan sekerja Allah.
Dibuat oleh:
Melkisedekh Y. Alfa Suharyono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar