Minggu, 16 Oktober 2011

MENILAI DUNIA



Manusia diciptakan untuk melaksanakan Mandat Agung Sang Pencipta, yaitu menjaga segenap karya Allah dengan baik dan bijaksana, tanpa terkecuali. Segala yang telah Tuhan ciptakan berpedoman pada keteraturan dan keseimbangan, satu hal yang bisa mewujudkan keduanya adalah KETAATAN. Taat pada ketetapan Allah adalah dasar dari pada Mandat Agung Allah. Oleh karena dosa, manusia terjatuh kedalam ketidak kudusan, dan mengetahui akan diluar kehendak Allah, ketidaktaatan inilah yang menyebabkan dosa mulai ada di dalam ciptaan Allah.


Segenap anak cucu Adam dan Hawa, merasakan buah dari apa yang mereka tanam, yaitu ketidaktaatan yang menghasilkan ketidak-kudusan. Semakin lama, manusia berproses ditengah dunia dan lingkungan yang tidak kudus, mengenal kekuatan lain selain daripada Allah, sehingga memproses karakter manusia menjadi serupa dengan dunia. Anak cucu Adam dan Hawa, merasakan betapa sulitnya hidup terlepas dari kasih Allah, dan mencari pengharapan-pengharapan lain selain daripada Allah.

Allah adalah sumber kebaikan dan sumber kemudahan, tetapi manusia yang mulai hilang pegangan daripadaNya berusaha mencari pegangan yang lain. Dunia, iya... dunia menjanjikan kemegahan, kekuasaan, tahta, dan keglamoran akan duniawi, hal inilah yang membuat manusia kehilangan arah sehingga semakin menambah keserupaan karakter manusia, menjadi manusia duniawi. Manusia duniawi sangat menonjolkan sifat-sifat yang tidak berpadanan dengan ketetapan Allah. Manusia mulai saling membenci, menghakimi, mendendam, mencidera antar sesamanya, dan hilang kendali.

Untuk mendapatkan yang diinginkan, manusia rela menciderai manusia yang lain. Tatanan baru yang bernama tatanan duniawi telah menghasut manusia. Manusia berpikir bahwa apa yang mereka lakukan saat ini adalah sesuatu yang paling benar, sesuatu yang paling logika untuk dijalankan. Budaya-budaya dunia yang mengarah pada kesesatan diri manusia.

Celakalah...!!! Celakalah!!!

Manusia zaman sekarang semakin kehilangan pegangan, semakin serupa dengan dunia, dan semakin menjauhi Allah. Propaganda dan hasutan, fitnah dan pertikaian menjadi sesuatu yang sangat lazim terjadi antar manusia. Saat ini, tidak bisa lagi kita melihat Gambar dan Rupa Allah dalam diri manuisa.

Yang paling celaka dari yang celaka, yang merupakan bencana terhebat saat ini adalah, manusia berlaku seperti tuhan atas manusia yang lain. Manusia bertindak, berlaku, berbuat dan berfikir seolah-olah mereka adalah yang paling benar diantara kaumnya, sehingga mereka menjadi allah terhadap yang lain. Manusia semacam ini, adalah manusia yang sudah terjerumus kedalam kegelapan hati, matanya telah tersaput tabir kelam, sehingga tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah, mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak.

Manusia-manusia inilah yang paling sombong yang pernah ada di dunia ini, merasa paling bisa, paling suci, paling mengerti kehendak Allah dan ketetapanNya, akan tetapi apa yang dilakukan sama sekali tidak mencerminkan Mandat Agung Allah Sang Pencipta.

Oleh karena kesombongannya, mereka tidak dapat dinasehati,

Oleh karena merasa paling kudus, mereka memandang hina yang kurang kudus, atau tidak se-level keimanannya,

Oleh karena merasa diri paling benar, mereka tidak mau disalahkan, dan tidak mau dibenarkan.

Keonaran demi keonaran, kerap kali mereka lakukan, dengan dalih semua yang mereka lakukan adalah kebenaran, dan malahan membuat ketidakharmonisan antar sesama manusia, menteror, membuat tekanan, menjadikan suasana mencekam dan serba was-was. Satu hal yang membuat mereka sangat populer adalah, sifatnya dalam memandang “muka manusia” yang lain, merasa diri paling exclusive.

Bagaimana seharusnya yang kita lakukan?

Allah mempunyai mandat kepada kita semua, agar kita manusia saling mengasihi satu sama lain, saling bahu membahu dalam kesusahan dalam kesukaran, hendaknya manusia saling mendahului dalam memberi hormat, tidak mendendam dan berprilaku jujur dalam segala hal. Apabila dalam menerima sabda Allah, terjadi perbedaan presepsi di antara manusia, hal itu adalah wajar, karena latar belakang si penerima sabda adalah orang yang berbeda-beda. Akan tetapi ujilah segala sesuatu yang kita terima ( 1 Tesalonika 5:21)

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik ( 1 Tesalonika 5:21)

Segala sesuatu dari Allah adalah baik, dan tidak akan menyusahkan umat ciptaanNya, maka berbuatlah baik, sebab Tuhan Allah telah memberikan kebaikan untuk setiap kita

janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.(III Yohanes 1)

Terkadang kita lupa betapa baiknya Tuhan Allah kita, Dia selalu memelihara segenap umat ciptaanNya, baik yang mau percaya kepadaNya, ataupun yang mengeraskan hati padaNya

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:45)

Marilah, saya ajak setiap saudara yang membaca artikel ini, untuk mengitrospeksi diri,

1. Apakah sebenarnya yang Tuhan Allah inginkan atas hidup kita?

2. Apakah kita sudah taat dalam mengemban amanat agung Allah kita?

3. Apakah yang setiap kali kita lakukan, meskipun kita lakukan di dalam nama Tuhan, namun apakah itu semua sudah berpadanan dengan Kehendak Tuhan Allah kita, atau malah sebaliknya, mengecewakan HatiNya.

Semoga apa yang saya sampaikan dalam artikel ini dapat bermanfaat bagi setiap kita yang membacanya, biarlah kasih karunia dari Tuhan Allah kita senantiasa ada pada kita semuanya. Amin

Dibuat oleh:

Melkisedekh Y. Alfa Suharyono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar