Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus pada ulasan ini, kami bermaksud untuk menyampaikan mengenai pertanyaan yang sering terbersit dalam benak kita. Pergumulan mengenai halal dan haram, salah satu pertanyaan yang terlontar adalah:
“Apakah ada makanan tertentu yang menjadi haram (tidak tahir) apabila dikonsumsi oleh tubuh?, ”
Sebelum kita membahas lebih lanjut, perkenankan kami menyampaikan pengertian haram dan halal. Ungkapan haram dan halal, menjadi sangat krusial apabila diperbincangkan dalam forum-forum yang bersifat umum. Oleh karena setiap orang sesuai dengan adapt, budaya dan agamanya masing-masing memiliki konotasi haram dan halal yang berbeda-beda.
Mengapa demikian?
Oleh karena konotasi tersebut terbentuk oleh karena kebudayaan yang melekat dalam pribadi masyarakat. Sebagai misal: dalam agama Yahudi dimana babi dilarang untuk dikonsumsi, atau dalam kebudayaan India dimana sapi spesies tertentu dilarang juga untuk dikonsumsi dagingnya, bahkan didalam denominasi gereja pun, juga terdapat larangan-larangan untuk mengkonsumsi hal-hal tertentu.
Sekali lagi, mengapa demikian?
Peranan budaya, adat istiadat dan norma-norma yang berada dilingkungan sekitar masyarakat yang membentuk konotasi tersebut. Adanya suatu nilai dari sesuatu yang tidak boleh dimakan, oleh karena jasa dari hewan tertentu yang sangat berguna dalam kehidupan manusia sehingga sebagai manusia memberi penghormatan padanya, selain itu mungkin adanya indikasi berbahaya apabila zat yang terkandung dalam makanan tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. Hal-hal tersebut tergantung sudut pandang manusia yang satu dengan yang lain, dan budaya yang satu dengan budaya yang lain.
Bagaimana dengan umat Nasrani itu sendiri, mengapa dalam Perjanjian Lama terdapat makanan yang haram, sedangkan dalam Perjanjian Baru dihalalkan?
Dalam Perjanjian Lama banyak disebutkan adanya makanan yang halal dan yang haram, dan memang benar dalam Perjanjian Baru hal tersebut di-halalkan, bukan berarti Tuhan tidak konsisten dalam firman-Nya, oleh karena Beliau konsisten maka firman Tuhan itu boleh diterima oleh umat-Nya. Mari kita simak dalam ayat Pejanjian Lama, demikian:
Imamat 11: 1-47, kitab Imamat adalah Firman Tuhan yang di-wahyukan kepada nabi Musa. Yang berisikan hukum-hukum Taurat. Dalam bahasa Yunani Taurat disebut sebagai He Pentateuchos, yang berarti kelima gulungan. Dalam pandangan orang Yahudi, Taurat adalah satu kitab yang berjilid lima.
Isi dari kitab Taurat adalah: Riwayat dari Bapa Leluhur umat manusia, kisah-kisah Karya Allah Bapa, dan ketetapan (hukum) dari Allah Bapa untuk mengatur kehidupan umat manusia.
Kitab Imamat ini, merupakan salah satu dari kitab Taurat, dan pada pasalnya yang kesebelas memberikan rincian yang sungguh jelas mengenai hal-hal yang tidak boleh dimakan, dan yang boleh dimakan, dan hal-hal yang tahir dan yang membuat kenajisan.
Isi dari Imamat 11:1-47, pada intinya memberikan aturan sebagai berikut:
1. Binatang yang boleh dimakan:
a. Binatang berkaki empat yang hidup didarat , yang berkuku belah, kukunya bersela panjang, dan memamah biak,
b. Segala yang hidup di air, akan tetapi yang bersisik dan bersirip,
c. Segala unggas, kecuali yang tidak boleh dimakan,
d. Binatang merayap, dan bersayap yang berjalan dengan keempat kakinya, yang memiliki paha: belalang,
2. Binatang yang tidak boleh dimakan:
a. Binatang berkaki empat yang hidup di darat secara khusus: Unta (tidak berkuku belah), pelanduk, kelinci, babi hutan,
b. Segala yang hidup di air, yang tidak bersisik dan atau bersirip,
c. Beberapa jenis unggas: rajawali, erring janggut, elang laut, elang merah, elang hitam, gagak, burung unta, burung hantu, camar, elang sikap, pungguk, dendang air, burung hantu besar, burung hantu putih, burung undan, erring, ranggung, bangau, meragai, dan kelelawar,
d. Segala yang merayap, dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya, kecuali yang boleh dimakan,
e. Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di muka bumi: tikus, katak, landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon.
Pada ayat-Nya yang ke-45, berbunyi:
“Akulah Tuhan yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu, jadilah kudus sebab, sebab Aku ini kudus.”
Sungguh jelas Tuhan berbicara kepada umat-Nya mengnai kehidupan yang harus dilakukan oleh umat pilihan Allah (Isra-Elokheim), akan tetapi marilah kita tidak membacanya secara harafiah, oleh karena maksud dan kehendak Tuhan sangat mendalam.
Sekarang, mari kita pelajari dari isi kitab Imamat ini,
Kitab Imamat merupakan salah satu wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Musa di gunung Sinai, sewaktu dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, Kanaan. Kita dapat melihat bahwa kebudayaan antar bangsa sudah membaur begitu eratnya, bahkan oleh karena perbudakan yang memakan waktu sangat panjang (lintas generasi) sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya perkawinan silang antara bangsa Israel dengan bangsa Mesir ataupun dengan bangsa sesama perbudakan Mesir sewaktu itu. Hal ini dapat kita lihat, ketika Tuhan mentahirkan umat pilihan-Nya dengan suatu tanda yang juga dilakukan oleh Bapa leluhur, Abraham. Tanda tersebut adalah sunat.
Pada Keluaran 12: 48, berbunyi:
Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi Tuhan, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya, ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorangpun yang tidak bersunat noleh memakannya.
Dengan adanya percampuran budaya ini, dari mereka yang bukan bangsa asli haruslah disunat (diberikan tanda perjanjian dengan mengerat kulit kathan), agar menanggalkan kebudayaan yang dapat mencondongkan hati mereka dari Kehendak Tuhan yang sejati. Kebudayaan yang mereka bawa dari ritual-ritual bangsanya haruslah ditanggalkan, setelah menjadi keluarga dalam kebangsaan Israel.
Apa yang Tuhan kehendaki dari Firman-Nya?
Tuhan menginginkan agar umat Israel, yang adalah umat pilihan Allah hidup berpadanan dengan kehendak Tuhan saja, seperti yang Beliau perintahkan dalam,
( Roma 12 :2)
“Jaganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, tetapi berbuahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”
Pada zaman itu (zaman Musa), telah banyak bangsa lain yang memiliki peradaban yang lebih pesat, lebih modern, dengan keimanan kepada tuhan dan allah-allah ciptaan mereka. Dan perilaku yang mendukakan hati Tuhan Sejati. Bangsa yang tidak mengnal Tuhan tersebut diantaranya adalah Mesir, Babylonia, Persia, Siria, lebih mecondongkan hati mereka kepada perhambaan tuhan-tuhan palsu mereka.
Bangsa Israel yang dipilih oleh Tuhan Allah, yang adalah bangsa yang nantinya akan menurunkan Al-Masih, Yesus Kristus. Sebab itu pulalah, Tuhan harus memberikan hukum-hukum yang jelas agar bangsa pilihan ini, benar-benar berperilaku selayaknya bangsa pilihan Allah. Atas perantaraan nabi Musa, Tuhan menurunkan hukum Taurat, agar setiap langkah bangsa pilihan Tuhan ini selalu berpadanan dengan Rencana Agung Tuhan.
Tujuan dari hukum dan larangan untuk makanan, dan kenajisan tertntu tersebut tidak lain dan tidak bukan:
1. agar bangsa pilihan Allah ini, menjadi berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan, (Tuhan menjadi trendsetter bagi umat pilihan-Nya)
2. bangsa Israel, dapat menjaga ketaatan kpada Tuhan, dengan ujian fisik yaitu menahan setiap nafsu kedagingan mereka,
3. Tuhan ingin meyakinkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal diri-Nya, bahwa Israel adalah bangsa yang benar-benar mampu menjalankan Mandat Agung Tuhan.
Bercermin pada kisah Adam dan Hawa
Jika terdapat hewan dan tumbuhan tertentu yang tidak boleh dikonsumsi, mengapa Tuhan tetap menciptakan.
Segala ciptaan yang Dia buat itu, segalanya baik adanya, baik tumbuhan maupun hewan dan segala apa yang berada di dalam bumi, semuanya baik dimata Tuhan. Sehingga kita sebagai manusia janganlah membuat hukum-hukum baru oleh karena penafsiran secara harafiah. Rencana Tuhan itu sangat dalam dan perlu bimbingan dalam memahaminya.
Jika memang benar demikian, apa maksud Tuhan dalam kitab Kejadian 2:16.
Lalu Tuhan Allah memberi perintah itu kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
(Kejadian 2 : 16)
Sama halnya dengan perintah-Nya kepada bangsa Israel, pada saat itu Allah ingin menguji ketaatan dan kesetiaan dari Adam beserta Hawa. Sebenarnya tidak ada masalah, sekalipun kita memakan lebih dari satu buah. Akan tetapi, yang membuat mereka keliru adalah ketidaktaatan mereka kepada perintah Tuhan. Adam dan Hawa telah membuat kesalahan, dengan melakukan pelanggaran ketetapan Allah (Hamartia = tidak tpat sasaran), yang menybabkan merka harus menanggung akibat, yaitu diusir dari taman Eden.
Tidak pernah sekalipun Tuhan menganggap buruk/salah/jelek dari ciptaan yang telah Dia buat. Segala sesuatu yang telah Tuhan ciptakan itu, baik adanya, bermanfaat bagi kehidupan seluruh mahkluk. Tergantung setiap kita yang memanfaatkannya, jangan terlalu berlebih dalam segala hal, sebaiknya dilakukan secara beimbang.
Kembali lagi dalam permasalahan
Bangsa Israel, merupakan bangsa yang menurunkan garis keturunan bagi Tuhan Yesus Kritus. Dan setelah Tuhan Yesus yang merupakan manifestasi Allah Bapa Surgawi, turun kedunia, maka Beliau meluruskan paradigma yang melekat dalam akal bangsa Israel dan bangsa-bangsa sesudahnya. Nyata benar bahwa Yesus adalah penggenap hukum Taurat, dan bukan penghapus hukum Taurat. Di dalam Dia segala hukum Tuhan tergnapi. Seperti apa yang Dia firmankan dalam Injil Markus,
“Maka jawab-Nya: ‘Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?’ Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: ‘Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang”
(Markus 7:18-23)
Firman ini ingin mengajak kepada kita, seperti yang telah Allah Bapa ucapkan dalam firman-Nya kepada Adam, bahwa segala sesuatu yang kita makan tidak akan menghasilkan dosa bagi kita, oleh karena segala sesuatu yang Dia ciptakan itu baik adanya.
Tuhan Yesus secara tegas dan jelas, berfirman bahwa yang membuat kenajisan/ ketidak tahiran dalam diri kita adalah perilaku yang kita lakukan, dan perilaku tersebut mendukakan hati Tuhan.
Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa kalau kita makan.
(1 Korintus 8:8)
Segala apa yang kita lakukan, dalam hidup kita, yaitu tradisi, adat istiadat, ritual-ritual yang kita lakukan, tidak sedikitpun berguna untuk keselamatan kita. Akan tetapi, hidup kita yang bernar haruslah mengucap syukur, karena Allah mau berkenan hadir dalam rupa Yesus untuk memberikan keselamatan yang sejati dalam hidup kita. Yesus berbicara mlalui Rasul Paulus demikian:
“Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”
(Kolose 2:20-23)
Tuhan tidak menimbang-nimbang kesalahan manusia oleh karena makanan apa yang manusia makan, ataupun tidak mereka makan, akan tetapi Tuhan melihat segala apa yang manusia lakukan dengan tubuhnya.
Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun. Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukan untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh
(1 Korintus 6:12-13)
Meskipun segala sesuatu Tuhan ijinkan untuk kita makan, tetapi janganlah kita terlalu bebas dalam menggunakan kemurahan hati Tuhan. Segala sesuatu yang berlebih dan tidak terkontrol itu tidak baik. Manusia sebagai makhluk yang berakal sudah sepantasnya mengerti mana yang baik untuk dirinya, dan mana yang tidak sepantasnya dilakukan.
Dengan demikian, kita semakin menyadari kehendak Bapa Surgawi dalam hidup kita. Sudah sewajarnya kita memberitahukan kabar sukacita ini, kepada saudara-saudara kita yang belum terjamah oleh Tangan Kasih Tuhan. Sekaranglah waktunya bagi kita, untuk bahu membahu mengmban Amanat Agung Bapa Surgawi, agar dunia ini penuh Kemuliaan Tuhan.
Tuhan Memberkati
By: Melkisedekh Y. Alfa Suharyono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar