Siapakah Tuhan itu?, apakah Tuhan itu?, jika Tuhan memang ada, diamanakah Dia saat ini? Selalu saja pertanyaan yang sepele ini menyelimuti ruang pikiran, entah bagaimana cara menjawab pertanyan-pertanhaan tersebut. Sampai saat ini, Tuhan merupakan misteri yang sangat kuat, setiap peradaban di belahan dunia manaupun, dalam waktu apapun sangat erat dalam menyelidiki hakikat Tuhan. Agama, agama merupakan salah satu sarana untuk mengenalkan manusia kepada Tuhan, dengan jalan yang berbeda antar agama satu dengan yang lain. Kebudayaan, selain agama kebudayaan
merupakan sarana untuk mengenalkan setiap suku bangsa kepada Penciptanya, yang kebanyakan dikenal sebagai leluhur. Ritual kepercayaan spiritual, juga merupakan upaya yang digunakan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan dengan jalur spiritualitas. Selain itu ada banyak cara untuk dapat manusia lakukan dalam mencari keberadaan Tuhan, yaitu dari: komunitas, negara, teks atau naska kuno, dan orang tua.
Terbersit pemikiran di dalam diri, apakah Tuhan itu ada ataukah tidak pernah ada?, jika dia tidak ada bagaimana sikap kita yang sudah terlanjur mempercayai keberadaan-Nya.
terdapat dua kemungkinan yang menyebabkan adanya pemikiran akan Tuhan dalam sejarah kehidupan umat manusia. Pertama pemikiran akan Tuhan merupakan sesuatu hal yang sengaja diciptakan oleh manusia yang berpikir, dan yang kedua adalah pemikiran akan adanya Tuhan, merupakan berkah dari Tuhan kepada manusia.
1. Pemikiran akan Tuhan merupakan hasil dari kreasi manusia
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kebanyakan kaum ilmuan merupakan manusia yang paling menentang adanya Tuhan. Mereka adalah manusia yang tidak mau percaya dan mempercayai adanya Tuhan dalam setiap kehidupan di dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan ini merupakan sebuah proses yang alamiah, yaitu sesuatu yang sangat lazim terjadi. Dapat di gambarkan bahwa hidup itu adalah sesuatu yang kebetulan terjadi, dan segala sesuatu yang menyertainya hanyalah suatu kebetulan belaka. Bagaimana para pakar menjawab adanya kemungkinan adanya mukzizat yang merupakan peristiwa diluar nalar manusia? Sebagian mereka menjawab dengan sangat mudahnya, bahwa tidak ada kata mukzizat di dalam dunia ini, sebaiknya kata tersebut diganti dengan kata “keterbatasan pemikiran manusia”.
Keterbatasan pemikiran manusia, kata-kata ini yang mereka terapkan untuk menggoyakkan konsep tentang Tuhan. Bagi manusia yang tidak percaya akan adanya Tuhan (Atheis), mereka berfikir bahwa Tuhan merupakan pelarian dari keterbatasan pemikiran manusia.
Contoh, pada zaman dahulu manusia purba belum mengenal teknologi tentang api. Sehingga pada suatu saat terpancarlah petir dari langit yang membakar semak rumput di ladang. Oleh karena terbatanya pemikirian mereka, secara spontan mereka pikir bahwa terdapat sesuatu di atas kemampuan mereka yang dapat melakukan tindakan “mukzizat” tersebut. “Sesuatu” tersebut mereka kenal dengan istilah Tuhan. Sampai saat ini masih banyak yang beranggapan sama, bahwa Tuhan hanyalah pelarian dari keterbatasan pola pikir manusia. Contoh modern yang masih dijadikan praktek pelarian, keinginan untuk mempunyai anak perempuan atau laki-laki, cara pandang manusia menghadapi bencana alam ataupun fenomena alam.
Kaum atheis, sangat kuat dalam berargumen, menentang keberadaan Tuhan ditengah kehidupan manusia. Mereka berpendapat bahwa hanya manusia yang tidak berpendidikan yang percaya dan mempercayakan hidupnya untuk sesuatu yang sejatinya tidak pernah ada. Dengan kata lain manusia yang percaya adanya Tuhan adalah manusia yang sangat bodoh, dan tidak menggunakan akal rasionalnya.
Semakin bertambahnya zaman, dimana teknologi sudah sangat canggih, manusia dapat mengetauhi bagaimana alam semesta ini terbentuk, bagaimana kehidupan mula-mula ini tercipta, dan bagaimana keseimbangan kehidupan ini dapat tetap bertahan dalam kurun waktunya, sampai pada prediksi usia bumi dapat menjadi tempat berkehidupan manusia dan makhluk lainnya. Riset, percobaan, dan penemuan-penemuan yang telah dilakukan berdasarkan kajian ilmu pengetahuan, menyuguhkan data-data yang riil, otentik dan dapat dipercayai, daripada data-data mengenai kesaksian manusia telah melihat Tuhan, mukzizat yang dilakukan si-A yang dapat melenyapkan angin badai dengan jentikan jari, ataupun dongen isapan jempol lainnya. Dengan demikian, fenomena yang banyak terjadi pada manusia saat ini adalah, berlari menginggalkan Tuhan dan lebih menjadikan ilmu pengetahuan sebagai berhala kesesatan.
2. Pemikiran akan adanya Tuhan merupakan anugerah dari Tuhan itu sendiri.
Berbeda dengan cara pandang kaum Atheis, para spiritualis berpendapat bahwa Tuhan meletakkan pemikiran tentang eksistensi dirinya ke dalam pikiran setiap ciptaa-Nya. Dapat diartikan bahwa, manusia dapat berpikir tentang adanya Tuhan, oleh karena Tuhan yang memberikan kemampuan (ilham) tersebut di dalam diri manusia.
Bukan bermaksud bahwa Tuhan adalah sesuatu yang menempatkan dirinya agar tetap eksis, akan tetapi agar hubungan antara pencipta dan ciptaannya adalah utuh. Tuhan ingin agar manusia (ciptaan Tuhan) menyadari akan jati dirinya. Contoh: seorang anak dapat mengenali ayah dan ibunya sendiri saat dia sudah mampu untuk mengenalinya, hal ini karena adanya hubungan antara anak dan orang tuanya. Dengan adanya proses kasih sayang, perawatan, penjagaan, pendewasaan, sehingga seorang anak mampu mengenali bahwa dia memiliki orang tua yang sungguh baik dalam hidupnya.
Tuhan lah yang telah merewat, menyayangi manusia ciptaannya dengan sangat baik, dan Dia tidak pernah menuntut agar manusia memahami keberadaannya dengan baik pula. Tuhan tidak pernah menyuruh agar manusia berterima kasih pada-Nya, atas segala yang telah Tuhan lakukan di dalam hidup ciptaannya. Manusia dan ciptaan-nya yang lain diberikan kebebasan untuk mau menyadari keberadaannya atau tidak sama sekali. Hal itu diserahkan sepenuhnya di tangan manusia.
Burung di udara yang tidak berakal dan berbudi pekerti, Tuhan tetap merawat dan memelihara kehidupannya. Rumput di padang yang hanya tumbuh untuk sesaat, Tuhan juga merawat dan memeliharanya. Dan tidak pernah sedikitpun, Tuhan menuntut sesuatu agar ciptaannya percaya, atau menyadari keberadaan-Nya begitu nyata.
Kasih Tuhan tidak pernah terputus, meskipun kehidupan ciptaannya tidak sesuai dengan kehendak-Nya. kita dapat bercermin pada lehidupan bakteri patogen. Bakteri tersebut adalah mocroorganisme yang berbahaya bagi kehidupan manusia, jika demikian mengapa harus ada makhluk tersebut, bukankah lebih baik apabila Tuhan memusnahkannya saja. Itulah satu dari trilyunan bahkan trilyunan trilyun sifat dari Tuhan, yang kita manusia tidak akan pernah nisa untuk menyelaminya.
Pada saat ini, bagi para pembaca sekalian, pilihan ada di tangan kita sebagai manusia yang berakal dan berakhlak. Apakah kita mau tetap mengeraskan hati untuk tidak mau percaya adanya Tuhan, atau mau hidup untuk menyenangkan hatinya. Tidak ada ruginya bagi kita, pabila dalam ruang hati kita disediakan tempat untuk menyadari bahwa Dia adalah nyata, dan tidak ada ruginya untuk kita berterima kasih kepada-Nya dengan cara menyadari bahwa Dia ada untuk merawat kita. Kasih Tuhan selalu tercurah bagi setiap makhluk ciptaan Tuhan, tanpa terkecuali.
Coba kita pikirkan!!!
Jika Tuhan tidak pernah benar-benar ada...
Kita mencoba berpikir sebagai orang Atheis. Hidupku hari ini merupakan hasil dari kehidupanku hari kemarin, motto ini tidaklah salah untuk diterapkan, tetapi apabila didasari dengan sikap tidak percaya adanya Tuhan, maka yang akan terjadi adalah kekhawatiran. Rasa khawatir akan hari esok, apabila pada saat ini kehidupan kita tidak sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan matang-matang.
Contoh persoalan: Si-B merupakan seorang pedagang buah yang berharap untuk dua tahun kedepan lapak kecilnya yang berada di trotoir jalan kota, kelak dapat berkembang dan membangun kios kecil yang permanen di suatu tempat yang strategis. Akan tetapi nasib sedang tidak memihak padanya. Pada suatu saat lapak kecilnya digaruk oleh petugas pemerintahan tata kota, karena dapat mengganggu aktivitas pejalan kaki. larangan petugas tidak pernah dihiraukan oleh si-B, sehingga petugas terpaksa merubuhkan lapak kecilnya, dan dagangannya harus mengalami nasib yang tragis. Oleh karena tidak segera dijual, buah yang ada kini menjadi busuk. Si-B hilang harapan, merasa diri tidak dapat hidup, dia tidak dapat mencari alternatif tempat berjualan, modalnya kini sudah habis untuk keperluan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian dia ditemui sudah kehilangan akal sehatnya, terduduk sambil ketawa cekikikan seorang diri diperempatan jalan.
Persoalan yang di alami si-B, banyak dijumpai pada kehidupan manusia yang dirundung perasaan cemas, khawatir, takut menghadapi hari esok yang serba tidak menentu. Apalagi apabila kita saat ini sedang hidup sebatang kara, tidak ada lagi tempat untuk berharap, atau sekedar berkeluh kesah mengutarakan permasalahan yang sedang dihadapi. Manusia seperti inilah yang sangat disayangkan.
Jika Tuhan tidak pernah ada, atau tidak pernah diajarkan orang tua ke anaknya, atau manusia sengaja menutup diri tentang keberadaan Tuhan, maka akan banyak lagi si-B yang lain, yang bermunculan di Indonesia. di tengah keadaan negara ini yang semakin hari semakin tidak menentu. Dengan demikian hanya Tuhan lah sumber kekuatan bagi rohani manusia, meskipun secara fisik tidak dapat bertemu, akan tetapi dengan adanya pemikiran bahwa Tuhan ada, hal itu sudahlah cukup untuk memberikan pegangan dalam hidup manusia.
Apakah salah, jika kita sudah terlanjur mempercayai bila Tuhan itu ada?
saat ini digambarkan kita berada pada posisi manusia yang “terhasut” oleh dongen isapan jempol nenek moyang kita mengenai keberadaan Tuhan. Bacalah kesaksian salah seorang yang berhasil penulis rangkum:
Saya seorang yang beragama, dan sudah barang tentu ber-Tuhan. saya mengenal Tuhan dari kedua orang tua saya, dan seiring kedewasaan hidup saya (sekarang saya berusia 17 tahun), Informasi mengenai Tuhan semakin bertambah. Awalnya saya taat dan tetap patuh pada perintah dan ketetapan yang Tuhan ajarkan pada umatnya dalam agama yang saya anut. Akan tetapi pada akhir-akhir ini, keimanan yang selama ini saya bangun mendadak runtuh, oleh karena pergaulan yang saya lakukan. Teman-teman sebaya saya, selalu mengejek saya ketika saya berdoa sebelum makan, atau ketika saya melakukan ritual-ritual keagamaan. Meraka menertawai dan mengejek bahwa saya ini orang bodoh, dengan aktivitas yang saya lakukan. Hobby saya salah satunya adalah serching informasi di Internet, banyak info yang saya dapatkan, dan dari hobby saya tersebut semakin membuat keimanan saya lenyap. Bahwa, mengapa manusia harus mempercaya adanya Tuhan?, oleh karena pada kenyataannya Tuhan itu tidak pernah ada. saat ini saya mencoba untuk hidup lepas dari percaya pada Tuhan, saya berusaha untuk hidup sendiri tidak mau lagi memfokuskan pikiran pada sesuatu yang tidak pernah ada. Akan tetapi, terdapat perasaan yang hilang dalam diri saya. Hidup saya menjadi tidak teratur, tidak terkendali, kehilangan pegangan. Peresaan ini sungguh tidak mengenakkan hati saya. Pada akhirnya dan sampai kapanpun saya berfikir, bahwa tidak masalah, bahwa Tuhan ada atau tidak, saya tetap mau mempercayai kalau Tuhan itu ada bagi diri saya sendiri, kekuatan itu tetap ada bagi diri saya sendiri. Terserah mau teman-teman saya percaya pada Tuhan, atau mengejek saya. Yang penting saya mau menjadikan Dia ada bersama dengan saya. Dengan demikian perasaan hangat, perasaan tenang, seperti ada bodyguard yang senantiasa menemani saya, perasaan selalu beruntung, sekarang ada pada saya, dan saya sangat bahagia.
Kesaksian penulis dapatkan dari salah seorang narasumber yang namanya dan keterangan yang tidak untuk disebar luaskan, oleh karena privasi bagi pemilik informasi tersebut.
Kembali pada permasalahan, apakah salah jika kita sudah terlanjur percaya?
jawabannya adalah: tidak ada yang tau selain dirimu sendiri yang menjawabnya.
Tuhan dengan segenap kuasa yang Dia miliki, tidak pernah menjustifikasi pada segenap ciptaan-Nya dengan kata SALAH, KURANG BENAR, GAGAL, atau TIDAK TEPAT. Tuhan senantiasa memberikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada setiap ciptaan-Nya dalam melakukan aktivitas kehidupan. Begitu pula untuk pemikiran mau percaya bahwa Dia ada atau tidak, semuanya diserahkan kembali pada kita. Dia mempunyai rencana yang sangat unik dalam diri kita masing-masing, dan mempunyai cara yang spesial untuk setiap kita masing-masing. Sehingga tidaklah tepat apanila dijawab dengan kata SALAH ataupun BENAR.
topik yang saat ini dibahas adalah, apabila kita sudah terlanjur diajarkan konsep ketuhanan oleh orang tua kita, atau para leluhur kita sebelumnya, dan hal itu berbenturan dengan konsep ketuhanan orang lain, agama lain, atau konsep ketuhanan negara lain, hal itu tidak menjadi persoalan yang esensial untuk dijadikan bahan perdebatan, dalam pembuktian BENAR dan SALAH.
Satu hal yang penulis tangkap dari kebebasan berpikir tentang keberadaan Tuhan adalah, perasaan dan ketenangan setiap ciptaan Tuhan (terutama manusia), jika manusia lebih tenang, nyaman, damai tentram jika dia berfikir jikalau Tuhan itu ada, maka biarlah hal itu yang manusia pilih tanpa adanya tekanan dari Tuhan sekalipun (apalagi tekanan, teror, ancaman dari manusia yang lain). Begitu pula sebaliknya, apabila manusia lebih tenang apabila dia tidak pernah berfikir Tuhan ada, maka biarlah perasaan bahagia itu yang manusia dapatkan.
Kenapa manusia harus takut, apabila keberadaan Tuhan itu benar-benar ada?
tidak sedikit orang Atheis yang takut percaya jikalau Tuhan itu ada, oleh karena dogma ataupun doktrin-doktrin agama yang sengaja dicipta oleh manusia untuk membelokkan cinta kasih Tuhan pada setiap ciptaan-Nya. Manusia takut percaya adanya Tuhan, karena takut akan upah dosa dari perbuatan yang manusia telah perbuat.
Mari kita klarifikasi statment ini. berdasarkan pemikiran rasional manusia.
Seakan akan kita manusia yang sangat dekat dengan Tuhan, dengan demikian kita adalah ciptaan Tuhan dan manusia memandang Tuhan sebagai penciptanya.
Contoh permasalahan:
Si-C merupakan anak yang sangat kreatif, dia sangat pandai dalam membuat hasta karya yang dapat memukau setiap pasang mata yang memandangnya. Pada suatu ketika dia membuat sebuah maket denah perumahan di komplek perumahan dimana dia tinggal bersama kedua orang tuannya. Karyanya akan dikumpulkan enam hari kemudian, yang merupakan tugas dari ibu gurunya. Selama enam hari dia bekerja giat mengerjakan karya terbaiknya, yang nantinya akan dikumpulkan dan diberi nilai. Setiap saat dia menata detail-detail, mengoreksi apakah ada kekurangan dalam karyanya, penataan yang sangat teliti, dan selalu dia jaga karyanya dengan sebaik mungkin. Tepat pada hari pengumpulan, ternyata pagi itu hari hujan. Si-C mau tidak mau harus sampai ke sekolah dengan membawa karya maketnya. Sehingga dia memohon pada ayahnya agar dia diantar dengan menggunakan mantel agar karyanya ditak terkena air hujan. Sesampainya di sekolah si-C merasa sangat bangga, karena karyanya paling baik diantara teman-temannya.
meskipun pada konteks yang berbeda, akan tetapi ilustrasi karya si-C setidaknya dapat memberikan gambaran bagi kita semua. Tuhan merupakan pencipta dari segenap ciptaan, dan ciptaan Tuhan merupakan maha karya yang sangat luar biasa, merupakan wujud kesempurnaan kasih sayang Tuhan atas kehidupan ciptaan-Nya. Dia tidak pernah sedetikpun meninggalkan ciptaan-Nya terlantar, terluka, kekurangan kasih sayang, ataupun terserak. Dia selalu memegang ciptaan-Nya, meskipunciptaan-Nya tidak merasa diperlakukan demikian. Sehingga kita manusia tidak perlu merasa khawatir akan segala hal, oleh karena Tuhan adalah pencipta kita dan kita adalah ciptaan-Nya. Hal ini dapat dianalogikan bahwa kita ini adalah anak dan Tuhan adalah bapaknya. Tidak ada bapak yang ingin anaknya terantuk batu, tau terjatuh. Sebagai seorang bapak, Tuhan senantiasa melindungi ciptaan-Nya.
justru dengan adanya Tuhan yang senantiasa melindungi, membimbing, menopang, menuntun, mengarahkan kita agar dapat melakukan kehidupan yang semestinya, kita tidak perlu takut. Kita sebagai manusia harusnlah bersyukur karena, Dia Tuhan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya untuk kehidupan setiap makhluk ciptaan-Nya. Karena dia adalah pencipta kita yang mengerti kebutuhan setiap ciptaan-Nya
Akhir kata, Tuhan itu ada atau tidak sih??
jawaban dan pilihan ada di tangan kita masing-masing, tidak ada yang salah dan yang benar. Kita adalah manusia yang dewasa, yang sudah tau dan mengetahui mana yang baik untuk hidup kita dan mana yang membuat resah hidup kita.
Dibuat oleh:
Melkisedekh Y. Alfa Suharyono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar