Minggu, 16 Oktober 2011

TEMPAYAN YANG RETAK

Di sebuah desa yang masih asri, hiduplah seorang janda tua yang kini hidup sebantang kara, tidak ada sanak keluraga. Segala aktifitas dia lakukan seorang diri. Di rumahnya yang sederhana, di dekat sungai yang jernih airnya, hidupnya tidak dapat terlepas dari kedua tempayan tempat air yang selalu menolongnya dalam mendapatkan air, untuk keperluannya sehari-hari. Nenek mempunya dua tempayan yang sangat berbeda, tempayang yang satu masih utuh dan tidak bercacat, sedangkan yang satunya terdapat retakan pada pertengahan tubuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, nenek mengambil air di sungai dekat rumahnya. Dengan sebilah tongkat untuk memikul kedua tempayan tadi, nenek mengambil air di sungai. Tempayang yang utuh selalu memberikan air yang penuh saat sampai dirumah, dan tempayan yang retak hanya memberikan sedikit air, yaitu setengah dari tempayan utuh.


Terdengarlah percakapan diantara kedua tempayan,

“Heii kamu, harusnya kamu itu dibuang saja, sudah tidak berguna, hanya menyusahkan nenek saja, air yang kamu berikan tidak sebanyak punyaku” Tempayan utuh menyinggung perasaan tempayan retak. Perkataan tersebut membuat tempayan yang retak meresa bersalah dan memohon pada nenek untuk membuangnya saja.

“Nek... maafkan aku ya nek, bukankah lebih baik nenek membuangku saja dan membeli tempayan yang lebih baik, aku tidak dapat memberikan air secara penuh, air yang kau tampung tercurah di dalam perjalanan, setiba dirumah, aku hanya memberikan sedikit air saja untuk nenek” tempayan retak tertunduk sedih

Nenek hanya tersenyum padanya, dan menjawab nya dengan lembut: “tempayan, coba lihat apa yang telah kamu hasilkan untu nenek?” tempayan retak menggeleng, tidak mengetahui maksud nenek.

“Coba kamu lihat, bunga-bunga di rumah nenek, diruang tamu, di dapur, di kamar tidur nenek, dan di sepanjang jalan yang nenek lewati dari mengambil air di sungai... ini semua berkat dirimu, tempayan” jawab nenek menambahi. Tempayan retak masih belum mengerti apa maksud nenek.

Dengan kekurangan yang dimiliki oleh tempayan retak, nenek telah membuat rencana padanya. Tanpa sepengetahuan tempayan retak, nenek menebarkan biji bunga beraneka warna pada jalur pulang dari sungai. Setiap hari sepulang dari mengambil air, tempayan retak tanpa sengaja menyirami biji-biji tanaman bunga tersebut. Selama dua tahun, tempayan retak melakukanya terus menerus tanpa dia sadari, sehingga nenek dapat menikmati bunga-bunga yang indah berwarna-warni pada jalur yang tempayan retak lalui, tidak ada pada jalur tempayan utuh. Bunga-bunga indah tersebut, digunakan nenek setiap hari untuk menghiasi rumahnya kini.

Saudara ku yang terkasih, terkadang kita menjadi minder dengan kekurangan yang kita miliki. Selalu saja kita melihat kelebihan orang lain, dan terkadang kita menerima hinaan dari orang lain perihal kekurangan yang kita miliki. Tapi kita harus pulih, kita jangan terpuruk dengan hinaan dan cercaan mereka. Tuhan Allah tidak menginginkan umat yang dikasihiNya menjadi bersedih hati, Tuhan sangat bangga pada kita. Tuhan telah menyediakan Rencana yang indah, yang unik, dan spesial yang diciptakan khusus untuk setiap kita, karena kita adalah ciptaan kebanggan Tuhan. Tidak pernah Dia menciptakan kita hanya untuk menjadi batu sandungan bagi orang lain. Tuhan telah menempatkan setiap ciptaanNya sesuai dengan rencanaNya, sesuai dengan ketetapanNya. Hidup kita berharga bagi Allah.

Dan sesungguhnya, seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di mata TUHAN, dan hendaknya Ia melepaskan aku dari segala kesusahan." (I Samuel 26:24)

Mendengar hinaan orang lain, anggap saja sebagai motivasi untuk mengintrospeksi diri, tetapi jangan membuat kita terjatuh dalam tujuan yang diinginkan mereka yang menghina kita.

Mulai sekarang, katakanlah kepada setiap orang bahwa “HIDUPKU SUNGGUH BERHARGA DIMATA TUHAN”

Semoga artikel diatas memberikan pemahaman kepada kita, bahwa Tuhan telah menyiapkan rencanaNya untuk hidup kita, oleh karena kita adalah anak-anak kebangganNya.



Dibuat oleh:

Melkisedekh Yonatha Alfa Suharyono

Diinspirasi oleh:
 
Serikat Sion

Tidak ada komentar:

Posting Komentar