Hiduplah keluarga kecil yang sangat sederhana,dan hidup dalam kesederhanaan. Mereka adalah ibu, ayah, dan kedua anaknya yang. Ayah adalah kepala keluarga yang baik, dengan giat bekerja dengan tujuan menghidupi keluarga kecilnya, berangkat pagi pulang petang mengejar setoran dengan harapan mendapatkan uang yang cukup untuk keluarganya. Ibu adalah wanita yang sangat sabar, dengan niat membantu kebututuhan ekonomi keluarga, ibu membuat es lilin dan menjualnya kerumah-rumah. Kedua anak mereka, masih sekolah. Orangtua mereka tidak ingin anaknya putus sekolah, agar kelak dapat mencari kehidupan yang lebih layak.
Pada suatu sore, ketika ibu tiba dirumah dari berjualan es lilin, kedua anaknya menjemputnya di depan beranda rumah, sambil tertunduk menyesal mereka berkata pada ibunya bahwa bahan makanan di rumah telah habis, dan tidak ada sama sekali makanan terhidang diatas meja makan. Dengan paras menenangkan hati kedua anaknya, ibu memberikan penghiburan akan membeli telur, tempe dan minyak goreng di warung. Tanpa memberi tahu, bahwa dagangan es lilin ibu Cuma laku sedikit, hanya ada sedikit uang ditangannya kini. Berbekal uang tersebut, ibu membeli keperluan secukupnya.
Sesampainya di rumah, ibu dibantu dengan kedua anaknya mempersiapkan makanan untuk makan malam keluarga, sebelum ayah mereka pulang. Ibu berinisiatif membuat telur dadar, dengan maksud agar satu rumah kebagian merasakan lauk, dan menggoreng tempe yang dibelinya hanya empat buah. “Tidak apa-apa yang nak, kita makan sederhana saja malam ini ya...” kata ibu kepada kedua anaknya, keduanyapun menjawab ibunya dengan gembira: “tidak apa-apa kok bu, kami sangat bersyukur masih bisa makan malam ini”. Oleh karena api kompor tidak diatur sedemikian rupa, karena masih menggunakan kompor kayu, maka lauk-pauk yang mereka buat gosong.
Terlihat raut muka yang sangat gelisah pada ibu, dan kedua anaknya. Mereka kawatir ayah akan marah setibanya dirumah dan mendapati lauk-pauk yang terhidang dalam keadaan gosong. Ibu tidak meungkin membeli bahan makanannya lagi, oleh karena tidak ada uang sama sekali. Dengan penuh keterpaksaan, ibu menghidangkan tempe dan telur gosong di atas meja makan.
Hal yang ditunggu sudah tiba, ayah pun datang. Kedua anak menjemput ayahnya, dan merangkulnya sedangkan ayah menunduk dan memberikan pelukan pada kedua anaknya, Ibu melihat sambil tersenyum.
“Emmm bau harum apa ini”, kata ayah,
“tempe dan telur goreng, yahh..” jawab si bungsu.
“Wahh Wahh, kalian semua menanti ayah ya??, pasti belum makan”, dan semuanya mengangguk.
Semuanya menuju ke meja makan, tentu setelah ayah mencuci tangan dan berbersih diri, “Puji Tuhan” kata ayah setelah membuka tudung saji.
“Maafkan aku ya Yah” kata ibu dengan raut gelisah
“kenapa harus minta maaf” kata ayah menimpali “ayo kita duduk, kita santap makanan buatan ibu”, “eeiiittt, tunggu dulu... kita berdoa dulu”
Setelah berdoa, dan mengucap syukur pada Tuhan, merekapun makan dengan lahapnya. Pada pertengahan makan malam, si sulung bertanya pada ayahnya: “Yah... ayah tidak marah dengan tempe dan telur yang gosong ini?” tanyanya.
“Kenapa musti marah”, jawab ayah sambil tersenyum menghadapkan wajahnya pada si sulung, “Seharusnya kita bersyukur nak, ibu telah lelah mempersiapkan ini semua, dan Tuhan masih memberikan keluarga kita makanan di malam hari ini, masih banyak keluarga lain yang tidak seberuntung kita” jawab ayah sembari memandang ibu.
Kegiatan makan malam berjalan dengan penuh syukur, walaupun hanya dengan tempe dan telur yang gosong.
Saudaraku yang terkasih, terkadang kita tidak dapat menahan diri dari emosi sesaat kita, yang sebenarnya malahan akan menambah masalah, bahkan membuat permasalahan baru. Marah memang sangat mudah untuk dilakukan, marah sangatlah simpel untuk diperbuat. Akan tetapi akibat yang ditimbulkan setelahnya dapat memperkeruh suasana. Mari kita bercermin pada ilustrasi diatas, dalam keluarga yang serba kekurangan, mereka dapat menghadapi permasalahan dengan suasana hati yang baik. Rasul paulus telah mengajarkan kepada kita agar kita meninggalkan amarah, seperti tertulis dalan Efesus 6:4 dan Yakobus 1:19
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (Yakobus 1:19)
Hiduplah damai dengan setiap orang, agar hati kita senantiasa bersih dihadapan Allah, dan apa yang kita lakukan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Tuhan
Semoga dari artikel ini, kita mendapatkan pelajaran yang berharga dari Allah, agar kita mampu menahan amarah kita. Semoga bermanfaat, Tuhan Yesus Memberkati
Dibuat oleh:
Melkisedekh Yonatha Alfa Suharyono
Terinspirasi oleh:
Serikat Sion
Tidak ada komentar:
Posting Komentar