Jumat, 28 Januari 2011

Kesesatan terbesarku adalah hidup dalam dunia yang sesat


Kemunafikan, iya kemunafikan kata-kata itu yang saat ini membelenggu pikiranku yang sudah sangat sempit. Betapa tidak, kehidupan ini begitu penuh tipu muslihat. Antara yang benar dan yang salah tidak dapat dibedakan dengan mudah, tidak semudah menumpahkan air dari daun keladi.
Perdebatan demi perdebatan, percakapan yang dilakukan di pinggiran jalan, hanya untuk mengungkap busuknya bangkai yang ditutupi oleh balutan kapur barus. Sungguh tidaklah mudah. Liat-nya perdebatan dikala itu membuatku kehilangan kendali, bahkan nilai diri hampir ku gadaikan demi mengaku kalah pada sang waktu.. mungkin saat itu aku kalah (mengalah untuk menang, dan aku tidak membiarkan orang lain terjungkal jatuh)

Memang aku pernah berdoa memohon agar aku diberikan pengetahuan untuk berperkara, akan tetapi hasilnya sungguh di luar kendaliku sebagai manusia, yang hanya terbentuk dari gumpalan daging dan tetesan darah...
Akal pikiranku terlalu sempit dengan pembatas-pembatas yang membatasi pikiranku, pikiran manusia yang sungguh finit (terbatas.red) ini membuat ku tidak akan mampu memasukkan pengetahuan seluas samudra raya itu kedalam lubang di pasir yang sengaja aku buat dengan tangan mungilku... sungguh aku tidak mampu...
Entah sampai kapan diri ini haus akan kebenaran?
Entah sampai kapan pencarianku berhenti?
Dan entah sampai kapan aku tetap belajar sebagai murid?
Jawabnya hanya ada pada diriku sendiri, tidaklah mungkin berhenti... sampai raga ini rusak dan kembali menjadi abu, jiwaku menjadi statis (keadaan diam.red), dan rohku berpulang ke dalam kekekalan...
Dalam diriku ada suatu ganjalan, yang tumbuh seperti semak duri dalam dagingku...
Sebuah pertanyaan yang tidak mampu dijawab nalar...
Apa tujuanku ada di dunia, dimana kondisiku awalku adalah tidak ada. Jawaban dari orang-orangpun semakin membuat ku bimbang, oleh karena keterbatasan pola pikir mereka, yang dibatasi oleh norma, aturan, hukum-hukum, kaidah-kaidah…. (sejatinya mereka juga tidak tau tujuan mereka ada di dunia ini_pikirku)
Semenjak aku mengenal yang benar dan yang salah, pemikiran itu semakin menggelayut dalam ruang bawah sadarku...
Sampai suatu ketika kutemukan, bahwa manusia hidup adalah untuk manusia yang lain. Dan hidup kita berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama... dalam hidup ini manusia saling berlomba mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya yang kekal dan tidak terbatas...

Banyak orang yang berlomba untuk berbuat baik?
Benarkah statement tersebut, iya benar… berbuat baik untuk golongannya, untuk komunitasnya, untuk kelompoknya, untuk levelnya, dam membuat propaganda-propaganda jika ada yang merintangi kebaikkan itu… benarkan!

Bukankah kebaikan itu=kasih, apa ada manusia yang menolak kasih dari manusia yang lain?
Tentu saja ada, ketika manusia itu tidak menempatkan dirinya sebagai manusia.. jangankan memberi kasih kepada manusia yang lain, bertegur sapa saja tidak...jika tidak pada levelnya, manusia hanya memicingkan mata jika melihat manuia yang lebih rendah, lebih najis,atau mungkin lebih rendah derajadnya.
Berhenti hai kau iblis, tidak cukup puaskah dirimu... menguasai dunia ini dengan kuasa laknatmu....!!?? Belum puaskah kamu, segala sistem di dunia ini sudah kau campuri dengan tangan kotormu?
Memang benar, bahwa tempatmu adalah di dalam neraka jahanam, beserta manusia-manusia yang mengabdi padamu...
Bagi manusia yang masih tersadar, bukalah matamu, usaplah selumbar yang melekat pada kelopak matamu..., Hei...! dengarlah suara yang memanggilmu.... Sadarlah!
Dunia ini sejak mulanya adalah singgasana sang pencemooh dengan penghulu-penghulunya yang berlalu-lalang di angkasa, di awan-awan yang menggantung di atmosfer, seperti singa yang mengaum-ngaum mencari mangsanya... Hai bangunlah manusia...!! jangan terjerat oleh jerat kemunafikan sang pencemooh itu...
Gravitasi dosa di dunia ini sangat sulit untuk dihilangkan..., oleh karena semakin subur dipupuk dengan ketaatan pada kesesatan.
Wahai kamu yang masih tersadar, bangunlah lekaslah berlari, ceburkanlah dirimu pada air kehidupan... ratapan dan air matamu kini akan berubah menjadi mata air bagi manusia yang lain...
Jika kita mau keluar dari tempurung katak kita, rumah siput kita yang membatasi pola pikir kita ini....
Jangan lah kau dengarkan ucapan nenek moyangmu... dirimu punya cara berbeda memandang kehidupan.
Karena tujuan hidup adalah untuk orang lain, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih kekal kelak...
Dunia ini udah terlanjur sesat, janganlah dicampuri dengan perbuatan manusia yang semakin menyesatkan.
Jhonna_sedang berbisik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar